
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menatap 2026 dengan optimisme tinggi. Emiten BUMN karya ini menargetkan perolehan kontrak baru sebesar Rp23,8 triliun. Target tersebut naik 31,49% dibandingkan realisasi kontrak baru sepanjang 2025 yang mencapai Rp18,1 triliun. Perseroan menempatkan bisnis inti engineering dan konstruksi sebagai fokus utama pertumbuhan.
Corporate Secretary PT Adhi Karya Tbk, Rozi Sparta, menyampaikan bahwa strategi tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Pemerintah mendorong BUMN karya untuk memperkuat core business agar kinerja lebih berkelanjutan. ADHI menilai langkah ini penting untuk menjaga kualitas proyek dan manajemen risiko.
Rozi menegaskan bahwa ADHI terus memprioritaskan proyek konstruksi yang memiliki nilai strategis. Perseroan tetap mendukung pembangunan nasional dengan pendekatan yang terukur. Strategi ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kesehatan keuangan jangka panjang.
Kontrak Baru Adhi Karya Didukung Prospek Konstruksi
Manajemen melihat peluang sektor konstruksi masih terbuka lebar pada 2026. Belanja negara yang besar serta kebutuhan infrastruktur dasar dan sosial menjadi pendorong utama. Proyek gedung, jalan, jembatan, serta infrastruktur sumber daya air masih mendominasi kebutuhan pembangunan.
ADHI menilai program prioritas pemerintah memberikan kesinambungan proyek. Dengan selektivitas yang ketat, perseroan berupaya menjaga kualitas portofolio kontrak. Pengelolaan risiko tetap menjadi perhatian utama agar pertumbuhan berjalan sehat.
Dari sisi keuangan, ADHI memastikan struktur permodalan dan likuiditas dikelola secara prudent. Manajemen mengandalkan operational excellence untuk menjaga arus kas dan efisiensi proyek. Hingga saat ini, perseroan belum merencanakan aksi korporasi tambahan.
Untuk kuartal pertama 2026, ADHI masih mencermati sejumlah proyek yang berada dalam proses tender. Perseroan belum memerinci potensi kontrak baru karena proses seleksi masih berjalan. Namun, manajemen optimistis peluang kontrak tetap terjaga.
Pada 2025, ADHI mencatatkan kinerja kontrak yang solid. Total kontrak baru mencapai Rp18,1 triliun dan melampaui target revisi RKAP sebesar Rp17 triliun. Pencapaian ini menunjukkan efektivitas strategi fokus pada proyek utama.
Berdasarkan lini bisnis, kontrak baru didominasi engineering dan construction sebesar 91%. Sisanya berasal dari manufacture, property dan hospitality, serta investment dan concession. Dari jenis pekerjaan, proyek gedung menyumbang porsi terbesar, disusul infrastruktur sumber daya air serta jalan dan jembatan.
Sumber pendanaan kontrak juga menunjukkan dominasi proyek pemerintah. Sekitar 69% kontrak berasal dari pemerintah, diikuti BUMN dan sektor swasta. Komposisi ini mencerminkan kuatnya peran ADHI dalam agenda pembangunan nasional. []


