Beranda PERBANKAN BTN Dorong Tokenisasi Aset KPR, Ekosistem Digital Jadi Penggerak Bisnis Baru

BTN Dorong Tokenisasi Aset KPR, Ekosistem Digital Jadi Penggerak Bisnis Baru

KPR BTN

BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN terus mengembangkan bisnis perumahan melalui inovasi pembiayaan dan digitalisasi. Pengalaman panjang dalam sekuritisasi aset KPR menjadi modal bagi perseroan untuk mengeksplorasi peluang tokenisasi aset.

BTN menjadi salah satu pelopor sekuritisasi aset KPR di Indonesia. Perseroan mengembangkan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset atau KIK-EBA bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero).

BTN juga memanfaatkan skema Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi atau EBA-SP. Instrumen tersebut membantu bank mengatasi tantangan maturity mismatch dalam pembiayaan perumahan.

KPR memiliki tenor panjang, bahkan dapat mencapai 15 hingga 20 tahun. Sementara itu, sumber pendanaan bank memiliki karakter tenor yang berbeda.

Sekuritisasi membantu BTN mengelola kebutuhan pendanaan tersebut. Instrumen ini juga membuka ruang bagi bank untuk memperoleh sumber dana baru dan menyalurkannya kembali ke sektor perumahan.

Pengalaman itu menjadi dasar BTN dalam melihat potensi tokenisasi aset. Teknologi yang digunakan memang berbeda. Namun, prinsip pengelolaan aset tetap membutuhkan kualitas underlying yang kuat.

KPR BTN Didorong Masuk Ekosistem Tokenisasi dan Digital

Direktur Network and Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan tokenisasi dapat membuka akses terhadap sumber pendanaan yang lebih luas. Teknologi tersebut memungkinkan representasi aset dalam bentuk digital.

Rully menyampaikan pandangan tersebut dalam Casual Talk Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026 di Jakarta. Acara tersebut berlangsung di Jakarta International Convention Center pada Kamis, 24 September 2026.

Menurut Rully, tokenisasi tidak boleh berhenti pada digitalisasi aset. Inovasi tersebut harus memberi manfaat nyata bagi sektor riil.

Dalam konteks BTN, tokenisasi berpotensi memperkuat kapasitas pendanaan. Dampaknya dapat mengarah pada perluasan pembiayaan perumahan bagi masyarakat.

BTN juga melihat peluang penggunaan tokenisasi untuk monetisasi aset tertentu. Namun, penerapannya membutuhkan struktur legal dan valuasi yang jelas.

Perlindungan investor juga menjadi faktor penting. Selain itu, regulator perlu memastikan mekanisme transaksi berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

BTN menilai terdapat beberapa fondasi utama dalam penerapan tokenisasi. Pertama, ekosistem digital harus mampu menjaga keamanan data dan pencatatan aset.

Kedua, struktur transaksi harus menjelaskan kepemilikan aset. Sistem juga perlu memberikan kepastian mengenai hak investor dan mekanisme pembayaran.

Ketiga, kualitas underlying asset harus mendapat perhatian. Dalam konteks KPR, kualitas dan standardisasi data menjadi faktor penting.

BTN juga perlu membangun basis investor secara bertahap. Transparansi dan edukasi menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman pasar.

Dari sisi risiko, BTN mencermati sejumlah tantangan. Risiko operasional dan keamanan siber menjadi perhatian utama.

Risiko juga muncul dari kualitas aset KPR yang menjadi underlying. Selain itu, tokenisasi tidak otomatis menciptakan pasar sekunder yang likuid.

Perlindungan investor juga membutuhkan sistem yang kuat. Semakin mudah aset diperdagangkan secara digital, semakin besar tuntutan terhadap transparansi dan tata kelola.

BTN menilai keberhasilan tokenisasi bukan hanya soal jumlah aset yang masuk ke sistem digital. Ukuran utamanya terletak pada manfaat terhadap efisiensi pendanaan dan perluasan pembiayaan rumah.

Transformasi tersebut berjalan seiring dengan strategi Beyond Mortgage BTN. Perseroan ingin memperluas hubungan dengan nasabah di luar kebutuhan kredit rumah.

Melalui berbagai kegiatan lifestyle, BTN membangun kedekatan dengan masyarakat. Perseroan ingin hadir dalam berbagai kebutuhan nasabah sepanjang perjalanan finansial mereka.

Langkah berikutnya mengarah pada penguatan ekosistem digital melalui balé by BTN. Platform tersebut menjadi bagian dari strategi BTN untuk memperluas layanan keuangan.

Nasabah dapat menggunakan ekosistem digital untuk berbagai kebutuhan. Layanan tersebut mencakup transaksi, tabungan, payroll, pembayaran, merchant, investasi, dan solusi finansial lainnya.

Dengan strategi tersebut, BTN tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan rumah. Perseroan juga ingin menjadi mitra keuangan dalam berbagai fase kehidupan nasabah.

Bagi BTN, digitalisasi bukan sekadar memindahkan layanan ke aplikasi. Transformasi ini bertujuan menciptakan layanan yang lebih dekat, relevan, personal, dan mudah digunakan.

Pada akhirnya, kombinasi inovasi pembiayaan dan digitalisasi dapat memperkuat posisi BTN dalam ekosistem perumahan. Tokenisasi aset menjadi salah satu peluang yang terus dikaji untuk mendukung akses pendanaan yang lebih luas. []