
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa Ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur pertumbuhan yang solid, meski dunia menghadapi ketidakpastian global. Ia meyakini laju pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5% tidak hanya terjaga, tetapi juga berpeluang meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku ekonomi global, Prabowo menekankan bahwa Indonesia berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah pengetatan keuangan global, tensi geopolitik, serta perlambatan ekonomi dunia.
Prabowo menyebut lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) menilai Indonesia sebagai salah satu titik terang ekonomi global. Penilaian tersebut dinilai mencerminkan fondasi ekonomi nasional yang kuat dan konsisten.
Ia menjelaskan bahwa stabilitas inflasi di kisaran 2% serta disiplin fiskal dengan defisit anggaran di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi faktor utama. Kebijakan makroekonomi yang terukur menjaga kepercayaan pasar dan investor.
Ekonomi Indonesia Didukung Stabilitas dan Kredibilitas Nasional
Menurut Prabowo, stabilitas dalam negeri tidak hadir secara kebetulan. Indonesia menjaga persatuan, stabilitas sosial, dan kepastian kebijakan selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut membentuk kredibilitas nasional yang bernilai tinggi di mata global.
Ia menegaskan bahwa kredibilitas ekonomi merupakan aset strategis. Pemerintah berkomitmen menjaga reputasi tersebut melalui kebijakan yang konsisten dan berorientasi jangka panjang. Prabowo menekankan pentingnya tindakan nyata dalam menjaga kepercayaan internasional.
Optimisme tersebut juga tercermin dari hasil kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Inggris. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di London, Indonesia memperoleh komitmen investasi sebesar 4 miliar pound sterling atau sekitar Rp90 triliun.
Komitmen investasi ini mencakup kerja sama strategis di sektor maritim dan industri perkapalan. Kedua negara menyepakati pembangunan 1.582 kapal nelayan yang seluruh proses produksinya dilakukan di Indonesia. Proyek ini dirancang untuk memperkuat industri dalam negeri sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa proyek kapal nelayan tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 600.000 tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja mencakup awak kapal, tenaga produksi, serta efek berganda pada sektor pendukung.
Produksi kapal di dalam negeri dinilai memberi nilai tambah signifikan bagi perekonomian. Selain membuka lapangan kerja, proyek ini memperkuat rantai industri nasional dan meningkatkan daya saing sektor maritim Indonesia.
Teddy menegaskan bahwa setiap kunjungan luar negeri Presiden Prabowo selalu diarahkan untuk menghasilkan manfaat konkret. Pemerintah menargetkan kerja sama internasional mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Dengan kombinasi stabilitas makroekonomi, disiplin fiskal, serta diplomasi ekonomi yang aktif, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara dengan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Di tengah ketidakpastian global, Ekonomi Indonesia tetap bergerak maju dengan fondasi yang kokoh dan arah kebijakan yang jelas. []


