Kata OJK Soal Pertumbuhan Aset Bank BUMN yang Melesat

Aset Bank BUMN

BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perbedaan signifikan pada laju pertumbuhan aset perbankan nasional sepanjang kuartal III-2025. Data terbaru menunjukkan bank milik negara mencatat ekspansi aset lebih agresif dibandingkan bank umum swasta nasional. Perbedaan ini mencerminkan variasi strategi bisnis dan sumber pertumbuhan di masing-masing kelompok bank.

Dalam Laporan Surveillance Perbankan Indonesia, OJK melaporkan aset bank umum swasta nasional tumbuh 6,94 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, aset bank BUMN meningkat 11,25 persen secara tahunan, menunjukkan kinerja ekspansi yang lebih kuat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa perbedaan pertumbuhan aset tidak dapat dinilai semata dari kinerja fundamental. Menurutnya, dinamika makroekonomi, model bisnis, serta strategi masing-masing bank ikut membentuk pola pertumbuhan tersebut. Setiap kelompok bank memiliki karakter dan fokus pengembangan yang berbeda.

Dian menjelaskan bahwa pertumbuhan aset perbankan sangat dipengaruhi oleh dana pihak ketiga (DPK). Peningkatan DPK kemudian mendorong penyaluran kredit yang menjadi komponen utama aset bank. Dalam periode ini, bank BUMN mencatat pertumbuhan DPK paling tinggi dibandingkan kelompok bank lain.

Aset Bank BUMN Didorong Dana Pemerintah

OJK menilai pertumbuhan Aset Bank BUMN dipengaruhi oleh penempatan dana pemerintah pada bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Penempatan tersebut memperkuat likuiditas dan mendorong ekspansi neraca bank BUMN secara keseluruhan. Peran bank milik negara sebagai mitra utama pemerintah memberi keunggulan tersendiri dalam penghimpunan dana.

Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan aset bank swasta mencerminkan sikap kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Ketidakpastian ekonomi global dan domestik mendorong bank swasta lebih selektif dalam ekspansi. Kondisi tersebut turut menekan permintaan kredit dari dunia usaha dan rumah tangga.

OJK mencatat penyaluran kredit bank BUMN tetap tumbuh relatif tinggi. Bank milik negara menjalankan peran strategis dalam mendukung pembiayaan program pemerintah, termasuk proyek infrastruktur dan sektor prioritas. Dukungan ini menjaga laju pertumbuhan kredit di tengah tantangan ekonomi.

Ke depan, OJK melihat ruang ekspansi perbankan nasional masih terbuka. Tren penurunan suku bunga diperkirakan mendorong permintaan kredit secara bertahap. Selain itu, kebijakan pemerintah yang pro-investasi dinilai mampu memperkuat aktivitas ekonomi.

OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan dan pengaturan sektor perbankan. Langkah ini bertujuan memastikan pertumbuhan berlangsung sehat, menjaga prinsip kehati-hatian, serta melindungi stabilitas sistem keuangan nasional. Dengan keseimbangan tersebut, perbankan diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. []