
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan dengan menargetkan penurunan Emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 15,5 persen atau setara sekitar 2 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) pada 2030. Target tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi hilirisasi mineral dan upaya dekarbonisasi.
Komitmen itu hadir di tengah proyeksi kenaikan kebutuhan energi operasional yang diperkirakan hampir dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang. Peningkatan tersebut dipicu oleh pengembangan berbagai proyek hilirisasi mineral strategis di sejumlah wilayah Indonesia.
Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi, mengatakan kebutuhan energi Grup MIND ID diperkirakan meningkat dari sekitar 149 ribu terajoule (TJ) pada 2026 menjadi 293 ribu TJ pada 2030.
Menurutnya, tanpa langkah mitigasi yang terukur, Emisi GRK berpotensi naik dari sekitar 6.100 kiloton CO2e menjadi 12.900 kiloton CO2e pada periode yang sama.
“Kebutuhan energi operasional diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat seiring mandat hilirisasi. Karena itu, strategi keberlanjutan harus berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis,” ujar Binahidra.
Emisi Jadi Fokus Strategi Hilirisasi MIND ID
Untuk mencapai target Emisi tersebut, MIND ID menjalankan berbagai program dekarbonisasi di seluruh lini operasional. Salah satu fokus utama ialah memperluas penggunaan energi rendah karbon.
Perusahaan mendorong peningkatan pemanfaatan biodiesel dari B35 menuju B40, mengganti High Speed Diesel (HSD) dengan liquefied natural gas (LNG), serta mengoptimalkan pasokan listrik dari jaringan PLN.
Sejumlah anggota grup juga telah merealisasikan berbagai inisiatif tersebut. PT Bukit Asam Tbk, misalnya, memanfaatkan Bucket Wheel Excavator (BWE) pada aktivitas coal handling di Unit Pertambangan Tanjung Enim. Langkah itu mampu menekan emisi sekitar 5.200 ton CO2e setiap tahun.
Sementara itu, PT Indonesia Asahan Aluminium mengganti penggunaan HSD menjadi LNG pada fasilitas baking plant. Inisiatif tersebut berhasil mengurangi sekitar 3.700 ton CO2e sekaligus meningkatkan efisiensi energi.
Di sektor energi terbarukan, PT Indonesia Chemical Alumina menerapkan co-firing biomassa berbahan cangkang kelapa sawit sebagai substitusi sebagian batu bara. Adapun PT Timah Tbk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 300 kilowatt peak yang ikut mendukung pengurangan emisi karbon.
Selain reduksi langsung, MIND ID juga mengembangkan proyek berbasis alam (nature-based solutions), memanfaatkan Renewable Energy Certificate (REC), serta berpartisipasi dalam perdagangan karbon sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Binahidra menegaskan bahwa pengelolaan Emisi kini menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk mineral Indonesia. Investor global dan rantai pasok internasional semakin menempatkan aspek keberlanjutan sebagai salah satu syarat utama dalam kerja sama bisnis.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, MIND ID ingin memastikan program hilirisasi mineral tidak hanya menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mendukung target Indonesia menuju Second Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan aspirasi Net Zero Emissions di masa mendatang.


