
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang 2025 mencatatkan hasil positif dengan Amerika Serikat (AS) sebagai penyumbang terbesar surplus. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hubungan dagang dengan AS memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan neraca perdagangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat, yang mencakup sektor migas dan non-migas, mencapai US$ 18,11 miliar sepanjang Januari hingga Desember 2025. Nilai tersebut menempatkan AS sebagai mitra dagang dengan kontribusi surplus terbesar bagi Indonesia selama periode tersebut.
Selain AS, BPS juga mencatat India dan Filipina sebagai negara penyumbang surplus perdagangan Indonesia. India berkontribusi surplus sebesar US$ 13,49 miliar, sementara Filipina menyumbang US$ 8,42 miliar. Namun, capaian kedua negara tersebut masih berada di bawah kontribusi Amerika Serikat.
Neraca Dagang RI 2025 Didominasi Surplus Non-Migas
Jika dilihat lebih rinci, dominasi Amerika Serikat semakin terlihat pada sektor non-migas. BPS mencatat surplus perdagangan non-migas Indonesia dengan AS mencapai US$ 21,12 miliar sepanjang 2025. Angka ini jauh melampaui surplus non-migas dengan India sebesar US$ 13,62 miliar dan Filipina sebesar US$ 8,33 miliar.
Secara keseluruhan, surplus non-migas Indonesia sepanjang 2025 ditopang oleh sejumlah komoditas utama. Lemak dan minyak hewan atau nabati menjadi kontributor terbesar dengan nilai surplus mencapai US$ 34,06 miliar. Bahan bakar mineral menyusul dengan surplus sebesar US$ 28,01 miliar, sementara komoditas besi dan baja mencatat surplus US$ 18,44 miliar.
Untuk pasar Amerika Serikat, surplus non-migas Indonesia terutama didorong oleh ekspor mesin dan perlengkapan elektronik beserta komponennya. Selain itu, produk pakaian dan aksesori rajutan serta alas kaki juga memberikan kontribusi besar terhadap kinerja ekspor ke negara tersebut. Permintaan yang stabil dari pasar AS memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok penting bagi sektor manufaktur dan produk konsumsi.
Sementara itu, surplus perdagangan Indonesia dengan India banyak ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral serta lemak dan minyak hewan atau nabati. Komoditas besi dan baja juga masuk dalam tiga besar penyumbang surplus ke pasar India. Untuk Filipina, surplus terbesar berasal dari kendaraan dan bagiannya, diikuti oleh bahan bakar mineral serta lemak dan minyak hewani.
Capaian Neraca Dagang RI 2025 mencerminkan daya saing ekspor Indonesia yang tetap terjaga di tengah tantangan global. Diversifikasi pasar dan penguatan industri berbasis nilai tambah menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan surplus perdagangan ke depan. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan terus memanfaatkan peluang pasar utama seperti Amerika Serikat sambil memperluas akses ke negara mitra lainnya. []


