
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menatap tahun 2026 dengan optimisme tinggi. Bank spesialis pembiayaan perumahan ini menargetkan pertumbuhan KPR BTN di atas 10 persen, sejalan dengan peningkatan kuota rumah subsidi dari pemerintah menjadi 210.000 unit. Target tersebut mencerminkan peran strategis BTN dalam mendukung agenda nasional penyediaan hunian layak dan terjangkau.
Manajemen BTN menilai peningkatan kuota subsidi memberi ruang ekspansi yang lebih luas. Permintaan perumahan tetap kuat, terutama dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Kondisi ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan kredit yang berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi yang masih menantang.
BTN menyiapkan strategi terukur untuk menjaga momentum pertumbuhan. Bank tidak hanya mengandalkan volume penyaluran, tetapi juga memperhatikan kualitas kredit agar tetap sehat. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan manajemen risiko.
Strategi KPR BTN Perkuat Supply dan Perluas Demand
Dalam mendorong KPR BTN, perseroan mengoptimalkan strategi dari sisi supply dan demand. Dari sisi pasokan, BTN memperkuat dukungan kepada pengembang perumahan, khususnya developer kecil dan menengah di daerah. Segmen ini dinilai memiliki peran penting dalam merealisasikan target rumah subsidi secara nasional.
Saat ini, BTN telah bermitra dengan lebih dari 10.000 developer di berbagai wilayah. Bank mendorong para mitra tersebut menyiapkan lahan dan proyek sejak dini agar penyaluran KPR subsidi berjalan tepat waktu. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menjaga kelancaran pasokan rumah bagi masyarakat.
Dari sisi permintaan, BTN memperluas basis debitur dengan menyasar pekerja informal. Melalui skema Kredit Program Perumahan (KPP), bank membuka akses pembiayaan yang lebih terjangkau bagi segmen ini. BTN melihat pekerja informal memiliki potensi besar, namun selama ini menghadapi keterbatasan akses ke pembiayaan formal.
Selain segmen subsidi, BTN juga menyiapkan langkah untuk menopang pertumbuhan non-subsidi. Bank mengembangkan produk pembiayaan rumah bekas dan renovasi rumah guna menjawab kebutuhan pasar urban. Di saat yang sama, BTN mengusulkan perluasan batas harga rumah subsidi hingga Rp750 juta untuk menyasar kelas menengah di wilayah perkotaan.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara segmen subsidi dan non-subsidi. Dengan begitu, pertumbuhan KPR di atas Rp200 juta tetap terjaga dan sejalan dengan kinerja segmen subsidi.
Dari sisi kualitas aset, BTN mengakui adanya tekanan kredit bermasalah pada 2025 akibat inflasi dan peningkatan pemutusan hubungan kerja. Namun, berbagai inisiatif perbaikan telah dijalankan, mulai dari pengetatan seleksi kredit hingga penguatan manajemen risiko berbasis digital.
Hasilnya, rasio kredit bermasalah mulai menurun sejak kuartal IV-2025 dan mendekati level 3 persen. BTN optimistis kualitas kredit akan semakin membaik pada 2026, seiring perbaikan proses bisnis dan fokus pada segmen dengan risiko yang lebih terukur. Dengan fondasi tersebut, target pertumbuhan KPR BTN di atas 10 persen dinilai realistis dan berkelanjutan. []


