
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – Industri perbankan mulai mencermati sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan tekanan pada awal 2026. Perlambatan pertumbuhan dana dan kredit menjadi sinyal penting yang perlu diantisipasi sejak dini.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mengalami penurunan pada Februari 2026. Laju pertumbuhan DPK tercatat 9,2 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 10,8 persen.
Pertumbuhan kredit juga melambat dalam periode yang sama. Kredit perbankan tumbuh 8,9 persen secara tahunan, turun dari posisi 10,2 persen pada bulan sebelumnya.
Perlambatan tersebut terjadi seiring meningkatnya tekanan ekonomi global dan domestik. Faktor eksternal dan internal mulai memengaruhi stabilitas sektor keuangan nasional.
Salah satu pemicu utama ketidakpastian global berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik antara beberapa negara mendorong lonjakan risiko terhadap pasokan energi global.
Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga energi dan menekan aktivitas ekonomi global.
Di sisi domestik, tekanan inflasi juga meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik mencatat inflasi mencapai 4,76 persen pada Februari 2026. Angka tersebut naik signifikan dari posisi 3,55 persen pada bulan sebelumnya.
Kenaikan inflasi terjadi seiring meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode Ramadan. Harga bahan pokok menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi.
Ketidakpastian Global dan Domestik Dorong Perbankan Perkuat Mitigasi Risiko
Tekanan dari Ketidakpastian Global dan Domestik membuat industri perbankan memperkuat strategi manajemen risiko. Regulator dan pelaku industri meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perlambatan ekonomi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan di Otoritas Jasa Keuangan, Dian Ediana Rae, menilai kondisi global saat ini sangat dinamis dan sulit diprediksi.
Ia menegaskan bahwa perubahan kebijakan geopolitik dapat memicu fluktuasi harga energi dan memengaruhi stabilitas ekonomi global. Dampak tersebut berpotensi menekan sektor usaha yang bergantung pada perdagangan internasional.
Direktur di Bank Central Asia, Santoso, mengungkapkan bahwa permintaan kredit mulai melemah pada sektor yang terhubung dengan rantai pasok global.
Sektor industri berbasis bahan kimia dan energi menjadi contoh sektor yang paling rentan terhadap tekanan biaya produksi. Kenaikan harga energi dapat mengurangi margin usaha dan menekan arus kas perusahaan.
Sementara itu, Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menilai dampak kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi lanjutan.
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya beli masyarakat dan meningkatkan risiko kredit bermasalah di sektor perbankan.
Untuk menghadapi situasi tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional sekaligus Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Hery Gunardi, menegaskan bahwa perbankan telah menjalankan berbagai langkah mitigasi risiko.
Industri perbankan melakukan stress test pada sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi. Sektor tersebut mencakup transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, bank memperkuat likuiditas melalui pengelolaan rasio keuangan seperti liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR).
Dengan strategi mitigasi yang disiplin, industri perbankan diharapkan tetap tangguh menghadapi tekanan ekonomi. Ketahanan sektor keuangan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional. []


