
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – Prospek saham BUMN pada 2026 dinilai masih menyimpan peluang pertumbuhan di tengah transformasi tata kelola melalui pembentukan dan penguatan peran Danantara. Reformasi struktural ini diproyeksikan memperjelas fungsi pengelolaan investasi negara sekaligus meningkatkan profesionalisme manajemen emiten pelat merah di pasar modal.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai stimulus fiskal pemerintah yang tercermin dalam APBN serta keberlanjutan proyek strategis nasional akan menjadi penopang utama kinerja BUMN. Emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap belanja negara, khususnya di sektor infrastruktur dan industri dasar, dipandang masih memiliki prospek solid pada 2026.
Selain faktor fiskal, ekspektasi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia ke kisaran 4,75 persen dinilai menjadi katalis tambahan, terutama bagi sektor perbankan. Penurunan biaya dana berpotensi menjaga margin bunga bersih sekaligus membuka ruang ekspansi kredit secara lebih agresif. Namun demikian, risiko global seperti ketidakpastian geopolitik dan volatilitas nilai tukar tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi.
Dalam lanskap tersebut, saham perbankan BUMN dengan fundamental kuat seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) masih menjadi pilihan utama. Ketiga bank ini dinilai memiliki skala usaha besar, kualitas aset terjaga, serta daya tahan yang relatif kuat menghadapi siklus ekonomi.
Untuk sektor non-perbankan, saham Telkom Indonesia (TLKM) dan Jasa Marga (JSMR) juga dinilai menarik. Telkom diproyeksikan memperoleh manfaat dari ekspansi pusat data dan penguatan infrastruktur digital, sementara Jasa Marga didukung oleh optimalisasi ruas tol baru serta efisiensi beban keuangan.
Sentimen positif turut datang dari rencana konsolidasi tujuh BUMN Karya menjadi tiga induk usaha. Langkah ini dipandang berpotensi memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan efisiensi operasional sektor konstruksi yang selama ini dibebani leverage tinggi.
Perubahan struktur kepemilikan negara melalui pemisahan peran antara Badan Pengelola Investasi Danantara dan BP BUMN juga dinilai meningkatkan kejelasan tata kelola. Skema ini diharapkan memperkuat pengawasan sekaligus memberi fleksibilitas pengelolaan investasi, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai reformasi tersebut tidak mengganggu fundamental emiten BUMN. Selama prinsip good corporate governance tetap dijaga, investor diproyeksikan tetap memberikan respons positif.
Memasuki 2026, valuasi saham BUMN, khususnya sektor perbankan, dinilai masih atraktif dan berada di bawah rata-rata historis. Dengan dukungan dividen yang konsisten dan arah kebijakan yang semakin jelas, saham BUMN tetap menjadi alternatif strategis bagi investor jangka menengah hingga panjang. []


