
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – IHSG ambruk 1,42 Persen pada awal perdagangan Rabu (28/10/2026). Namun, analis pasar modal melihat peluang pemulihan seiring munculnya sejumlah indikator teknikal positif.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan 74,58 poin menuju level 5.191,55 hanya dalam dua menit pertama perdagangan.
Sebelumnya, indeks membuka perdagangan pada level 5.249,07 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 5.255,67.
Tekanan jual kemudian membawa IHSG menuju level terendah 5.190,31. Meski demikian, aktivitas perdagangan tetap berlangsung dengan nilai transaksi mencapai Rp779,84 miliar.
Volume perdagangan pada periode tersebut mencapai 18,41 juta lot saham.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor masih mencermati risiko pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perkembangan kebijakan domestik.
Namun, koreksi juga membuka peluang bagi investor untuk mengevaluasi saham perusahaan yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.
IHSG Ambruk, Analis Melihat Peluang Pemulihan Pasar
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai tekanan IHSG masih berpotensi berlanjut secara terbatas.
Analisis teknikal menunjukkan indeks memasuki fase wave (b) setelah mengalami koreksi signifikan dalam beberapa perdagangan sebelumnya.
Indikator Stochastic K_D mulai memperlihatkan arah positif. Namun, Relative Strength Index (RSI) masih menunjukkan tekanan, sementara volume transaksi cenderung menurun.
Nafan menempatkan area support IHSG pada level 5.192 dan 5.065. Sementara itu, area resistance berada pada 5.398 dan 5.524.
Level tersebut menjadi perhatian investor dalam membaca kemungkinan perubahan arah pasar.
Dari sisi aliran dana, investor asing sebelumnya mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp708,88 miliar.
Secara kumulatif, aksi jual bersih investor asing sepanjang 2026 mencapai sekitar Rp124,22 triliun.
Meski demikian, perkembangan fundamental emiten tetap menjadi faktor penting dalam menentukan prospek investasi jangka panjang.
Investor juga menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, pada 27–28 Oktober 2026.
Selain kebijakan moneter global, laporan keuangan perusahaan teknologi besar Amerika turut memengaruhi sentimen investasi internasional.
Di dalam negeri, kinerja perbankan seperti BRIS, BBRI, BBTN, dan BDMN menjadi perhatian pelaku pasar.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia merencanakan penyesuaian penghitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Kebijakan tersebut mencakup pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Langkah reformasi ini berpotensi memperkuat kualitas indeks dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar modal.
Nafan menyarankan investor memilih saham secara selektif dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, valuasi, dan indikasi pembalikan harga.
Strategi tersebut membantu investor menjaga keseimbangan antara peluang keuntungan dan pengelolaan risiko.
Walaupun tekanan jangka pendek masih membayangi pasar, peluang penguatan tetap terbuka apabila sentimen membaik.
Dengan analisis terukur dan disiplin investasi, pelaku pasar dapat memanfaatkan momentum koreksi untuk menyusun portofolio jangka panjang. []














