
BAROMETERBISNIS.COM, Jakarta – Laba Antam mencatat pertumbuhan impresif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan laba periode berjalan Rp9,66 triliun hingga September 2026.
Pencapaian tersebut melonjak 46 Persen dibandingkan Rp6,61 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif ini mencerminkan penguatan operasional, peningkatan penjualan, serta strategi bisnis yang mampu menjaga daya saing perusahaan pertambangan nasional.
Antam juga mencatat pendapatan bersih Rp88,48 triliun, meningkat 23 Persen dari Rp72,03 triliun sepanjang Januari–September 2025.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menegaskan bahwa perusahaan terus memperkuat fundamental melalui optimalisasi operasional dan pengembangan portofolio bisnis.
Strategi tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap pertumbuhan industri mineral Indonesia.
Selain itu, Antam membukukan EBITDA sebesar Rp13,48 triliun atau meningkat 45 Persen secara tahunan.
Laba usaha turut melonjak 53 Persen menjadi Rp12,05 triliun, menunjukkan peningkatan profitabilitas dari aktivitas bisnis utama.
Laba Antam Menguat, Penjualan Emas dan Nikel Tumbuh Pesat
Segmen emas menjadi kontributor terbesar pendapatan perusahaan dengan porsi sekitar 77 Persen dari total penjualan.
Sepanjang Januari–September 2026, penjualan emas Antam mencapai Rp68,41 triliun atau tumbuh 17 Persen secara tahunan.
Volume penjualan emas mencapai 25.217 kilogram, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap produk logam mulia perusahaan.
Sementara itu, segmen nikel mencatat pertumbuhan pendapatan yang semakin agresif.
Penjualan feronikel dan bijih nikel mencapai Rp16,98 triliun, melonjak 52 Persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Antam juga membukukan penjualan bijih nikel sebesar 10,73 juta ton basah dengan penyerapan seluruhnya oleh pasar domestik.
Perkembangan tersebut memperkuat peran perusahaan dalam mendukung rantai pasok industri pengolahan mineral nasional.
Pertumbuhan positif juga terlihat pada bisnis bauksit dan alumina. Kedua komoditas tersebut menghasilkan penjualan Rp2,64 triliun, meningkat 35 Persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain pertumbuhan operasional, Antam memperkuat struktur keuangan melalui pengelolaan modal kerja dan pengendalian biaya secara disiplin.
Total aset perusahaan mencapai Rp59,74 triliun, meningkat 24 Persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekuitas perusahaan juga tumbuh 17 Persen menjadi Rp41,22 triliun.
Sementara itu, kas dan setara kas mencapai Rp10,54 triliun, memberikan fleksibilitas keuangan untuk mendukung pengembangan usaha.
Arus kas operasional turut meningkat 26 Persen menjadi Rp5,06 triliun, sejalan dengan pertumbuhan aktivitas bisnis.
Penguatan likuiditas tersebut menjadi modal penting bagi Antam untuk menghadapi perubahan harga komoditas dan dinamika pasar global.
Ke depan, perusahaan terus mendorong efisiensi operasional, optimalisasi pemasaran, serta pengembangan produk bernilai tambah.
Kombinasi kinerja emas, nikel, dan bauksit memberikan peluang bagi Antam untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Dengan fundamental yang semakin kuat, Antam berpotensi meningkatkan kontribusi terhadap hilirisasi mineral dan perekonomian nasional. []














